Beranda / Berita / Bukan Sekadar Bikin Ngakak, Begini Cara Warkop DKI Menyiasati Sensor di Era Orde Baru

Bukan Sekadar Bikin Ngakak, Begini Cara Warkop DKI Menyiasati Sensor di Era Orde Baru

indro warkop

JAKARTA – Warkop DKI bukan hanya dikenal karena lawakannya yang menghibur. Di balik aksi kocak Dono, Kasino, dan Indro, ternyata ada cerita menarik tentang bagaimana kelompok lawak tersebut menyiasati ketatnya sensor film pada era Orde Baru. Cerita itu disampaikan Indro Warkop dalam podcast PWK (Podcast Warung Kopi) yang tayang di YouTube.

Dalam obrolan tersebut, Indro menceritakan bagaimana komedi Warkop pada masa itu tidak sekadar bertujuan membuat penonton tertawa. Humor juga menjadi cara untuk menyampaikan suara masyarakat dan kritik sosial. Komedi bagi Warkop bisa menjadi ruang untuk menyampaikan keresahan masyarakat dengan cara yang ringan dan menghibur.

Cerita dari Indro tersebut membuat sejumlah adegan dan gaya bahasa Warkop DKI menarik untuk dilihat kembali. Pada masa Orde Baru, membuat film bukan sekadar menyusun cerita, memilih pemain, lalu membawa film ke bioskop. Ada aturan dan proses sensor yang harus dilewati. Sejumlah kata, adegan, maupun pesan tertentu bisa dianggap tidak pantas dan berpotensi dipotong.

Kondisi tersebut membuat para pembuat film harus kreatif. Begitu pula Warkop DKI. Ketika tidak bisa menyampaikan sesuatu secara langsung, mereka mencari cara lain agar pesan tetap sampai kepada penonton. Salah satu caranya adalah bermain dengan bahasa.

Kata-kata makian yang dianggap terlalu kasar dapat diganti dengan rangkaian kata lain yang terdengar lucu. Dari kreativitas semacam itu muncul berbagai umpatan khas yang kemudian menjadi bagian dari daya tarik humor Warkop. Salah satu contoh yang dikenal adalah ungkapan “dasar monyet bau kadal buntung”.

Umpatan tersebut tidak menggunakan kata makian yang secara langsung dianggap kasar. Nama-nama binatang justru dirangkai menjadi sebuah kalimat yang terdengar konyol. Bagi penonton, kalimat seperti itu menjadi bahan tertawaan. Namun, di baliknya terdapat kecerdikan dalam memilih kata agar humor tetap bisa disampaikan.

Permainan bahasa juga dilakukan dengan menggunakan istilah dari bahasa daerah. Salah satu contoh yang sering dikaitkan dengan strategi tersebut adalah kata “kirik”. Dalam bahasa tertentu, kata itu memiliki arti anjing. Bagi orang yang tidak memahami bahasa tersebut, kata “kirik” bisa saja terdengar seperti kata biasa.

Cara seperti ini menunjukkan bahwa bahasa bisa menjadi alat untuk mencari celah. Sebuah kata dapat memiliki arti berbeda tergantung siapa yang menggunakannya dan siapa yang mendengarnya. Dalam konteks komedi, perbedaan pemahaman tersebut justru bisa menghasilkan kelucuan.

Hal yang sama terlihat ketika Warkop menggunakan istilah yang tidak terlalu umum untuk membicarakan sesuatu yang dianggap tabu. Istilah “merancap”, misalnya, digunakan untuk menyebut aktivitas seksual tertentu tanpa harus menggunakan istilah yang lebih vulgar. Bagi penonton yang memahami artinya, lelucon tersebut terasa lebih jelas. Namun, bagi orang yang tidak mengenal istilah tersebut, kalimatnya bisa terdengar seperti kata biasa.

Permainan kata seperti itu memperlihatkan bahwa humor Warkop DKI memiliki kecerdikan tersendiri. Mereka tidak harus menggunakan kata yang kasar untuk menghasilkan lelucon. Justru dengan mengganti kata, menggunakan istilah daerah, atau memilih istilah yang jarang digunakan, kelucuan bisa muncul dengan sendirinya.

Namun, strategi Warkop dalam menghadapi situasi saat itu tidak hanya soal bahasa. Kritik sosial juga disampaikan dengan cara yang lebih halus. Daripada menyerang pemerintah pusat secara langsung, persoalan yang diangkat sering diarahkan kepada hal-hal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Birokrasi yang berbelit-belit, pelayanan publik yang tidak ramah, ulah oknum aparat, pungutan liar, hingga berbagai persoalan masyarakat menjadi bahan yang bisa diolah menjadi komedi. Penonton pun dapat tertawa karena merasa pernah mengalami atau melihat sendiri persoalan tersebut.

Cara tersebut membuat kritik terasa lebih aman sekaligus lebih dekat dengan penonton. Warkop tidak harus mengatakan secara langsung bahwa suatu sistem bermasalah. Cukup dengan menampilkan tokoh yang dipersulit oleh birokrasi atau harus berhadapan dengan petugas yang menyebalkan, pesan tersebut sudah bisa ditangkap.

Komedi fisik juga menjadi bagian penting. Adegan jatuh, kejar-kejaran, salah paham, perkelahian konyol, dan tingkah Dono, Kasino, serta Indro membuat film terlihat sebagai hiburan ringan. Penonton datang untuk tertawa, bukan untuk menonton film politik yang serius.

Namun, justru di balik kelucuan tersebut kritik bisa diselipkan. Inilah yang membuat komedi Warkop memiliki dua sisi. Di permukaan, penonton mendapatkan hiburan. Tetapi jika diperhatikan lebih jauh, ada persoalan sosial yang sedang dibicarakan.

Dalam podcast PWK, Indro juga menjelaskan bahwa komedi memiliki fungsi sebagai kontrol sosial. Pelawak dapat menjadi suara bagi keresahan masyarakat. Komedi bisa menyampaikan sesuatu yang mungkin sulit diucapkan secara langsung. Pandangan tersebut membantu menjelaskan mengapa Warkop DKI pada masanya tidak hanya populer sebagai kelompok lawak, tetapi juga dekat dengan persoalan kehidupan masyarakat.

Selain permainan bahasa dan kritik sosial, film-film Warkop juga memiliki strategi lain untuk menarik perhatian penonton. Salah satunya adalah penggunaan judul yang memiliki makna ganda. Judul seperti “Atas Boleh Bawah Boleh” dan “Makin Lama Makin Asyik” terdengar sederhana, tetapi juga bisa menimbulkan berbagai tafsir.

Judul yang ambigu seperti itu tentu mengundang rasa penasaran. Penonton ingin mengetahui seperti apa isi filmnya. Ditambah dengan humor khas Dono, Kasino, dan Indro, film Warkop memiliki daya tarik yang kuat di bioskop.

Unsur sensualitas juga menjadi bagian dari film-film Warkop pada masa tersebut. Kehadiran perempuan cantik yang kemudian populer dengan sebutan Warkop’s Angels menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Dari sisi industri hiburan, unsur tersebut ikut membuat film Warkop memiliki daya tarik komersial.

Namun, jika melihat keseluruhan strategi Warkop, humor tetap menjadi pusatnya. Mereka mampu menggabungkan kelucuan, permainan bahasa, cerita sehari-hari, kritik sosial, dan daya tarik komersial dalam satu film.

Yang menarik, Warkop tidak selalu harus berhadapan dengan aturan secara terbuka. Mereka justru mencari ruang di antara batas-batas yang ada. Ketika sebuah kata dianggap terlalu kasar, mereka mencari kata lain. Ketika sebuah kritik sulit disampaikan secara langsung, mereka membungkusnya dengan humor. Ketika sebuah persoalan terlalu serius, mereka mengubahnya menjadi adegan yang membuat penonton tertawa.

Strategi tersebut menunjukkan bahwa kreativitas dapat muncul ketika ruang berekspresi dibatasi. Warkop DKI memahami karakter penontonnya dan memahami situasi pada zamannya. Mereka tahu bahwa pesan yang terlalu serius bisa membuat orang menjauh. Karena itu, pesan tersebut dibungkus dengan sesuatu yang paling mereka kuasai: komedi.

Bagi penonton masa kini, beberapa lelucon Warkop mungkin terlihat sederhana. Namun, jika dilihat dari konteks zamannya, pilihan kata, cerita, dan cara mereka menyampaikan kritik menunjukkan adanya kecerdikan dalam membaca situasi.

Penuturan Indro dalam podcast PWK menjadi menarik karena memberikan gambaran dari orang yang mengalami langsung perjalanan Warkop DKI. Cerita tersebut menunjukkan bahwa di balik tawa penonton, terdapat proses kreatif dalam menentukan kata, membuat cerita, dan mencari cara agar pesan tetap dapat diterima.

Warkop DKI memang membuat masyarakat tertawa. Namun, di balik tawa tersebut terdapat suara tentang kehidupan masyarakat, kritik terhadap persoalan sosial, serta kreativitas dalam menghadapi batasan. Mereka membuktikan bahwa kritik tidak selalu harus disampaikan dengan nada serius.

Kadang-kadang, sebuah sindiran justru lebih mudah diterima ketika disampaikan lewat lelucon. Penonton tertawa, tetapi pada saat yang sama mereka tahu ada sesuatu yang sedang disindir.

Itulah salah satu alasan mengapa Warkop DKI masih dikenang hingga sekarang. Mereka bukan hanya pelawak yang pandai membuat orang tertawa, tetapi juga seniman yang mampu membaca keadaan dan mengubah keterbatasan menjadi kreativitas. Seperti yang tergambar dari penuturan Indro dalam podcast PWK, komedi bagi Warkop bukan sekadar hiburan, tetapi juga salah satu cara untuk menyuarakan keresahan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *